Home » » MENJEMPUT KEMATIAN

MENJEMPUT KEMATIAN

Written By NurulHuda on Selasa, 02 Agustus 2011 | Selasa, Agustus 02, 2011


Para sahabat marilah kita sedikit merenungkan sesuatu yang belum terjadi pada kita namun pasti terjadi pada kita. Entah kapan.

Banyak pakar bisnis, ilmuwan, cendikiawan, maupun orang-orang mengaku pinter berteori bahwa masa depan adalah sesuatu yang penuh ketidakpastian. Manusia hanya mampu memprediksi sesuatu dimasa yang akan datang berdasarkan data-data kemarin dan saat ini, kemudian dibuatlah planning untuk masa depan. Namun demikian teori itu tidak sepenuhnya benar. Karena ada satu hal di masa depan yang pasti, yaitu MATI.

Ya...kematian untuk sebagian orang adalah hal yang sangat menakutkan, karena tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya nanti di alam barzakh dan akhirat. Hal ini disebabkan tipisnya iman. Coba kita tengok dalam realita : banyak manusia berharap bahwa kalau bisa dia bisa hidup selama-lamanya bahkan mereka berupaya agar tetap kelihatan selalu awet muda (terbukti adanya upaya medis agar kulit tidak keriput, operasi plastik, obat-obatan untuk memperbaiki sel-sel kulit, operasi silicon, dll yang semata-mata bukan untuk penyembuhan suatu penyakit tapi agar tampil cantik, tampan,charming, tuntutan profesi, dll...pokoknya semata-mata urusan duniawilah...weleh...weleh...weleh) dan bagi mereka uang tidaklah menjadi masalah (kaum hedonis). Berapapun biayanya mereka tidak peduli asalkan bisa tetap kelihatan awet muda (coba di sodaqohkan..kan lebih bermanfaat). Jadi disini terjadi salah kaprah dalam menyikapi hidup, mereka berkorban mati-matian bukan untuk memperbaiki segi batiniah tetapi segi fisik yang jelas tidak bisa dihentikan karena ini bertentangan dengan sunatullah.Emangnya kalau muda tidak bisa mati to? Apakah kematian hanya identik dengan yang tua? Banyak kok yang masih muda, remaja bahkan masih bayi yang telah berpulang ke rahmatullah. Emangnya enak panjang usia? Padahal masa tua itu penuh dengan penyakit, mau pergi-pergi badan dan tulang udah nggak kuat, capek dikit dan kena angin langsung masuk angin, mata rabun, pendengaran berkurang, badan gemetaran, dll. Coba apa enaknya.

Tapi ya memang begitu sifat manusia, bahkan kalau bisa mereka tawar menawar dengan Tuhan biar dipanjangkan umurnya dan tetap awet muda. Padahal sudah jelas, waktu kematian tidak bisa ditunda maupun dimajukan.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman :

Ali Imran 145 : “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya...

Al Hijr 5 : “Tidak ada suatu umatpun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan (nya).

Nah..dari ayat diatas sudah jelas bahwa waktu kematian sudah ditentukan (dihak patent-kan...he..he..). Berhubung kita ndak tahu waktunya kapan, makanya Allah SWT berpesan agar kita selalu berdzikir disegala aktivitas kita, harus selalu eling lan waspada (ingat atau kesadaran kita selalu tertuju kepada Allah SWT, karena sewaktu-waktu kita akan mati dan kita gak tau kapan). Yang membedakan antara satu manusia dengan lainnya adalah bagaimana caranya dan di bumi (tempat/lokasi) kita akan bertemu dengan maut.

1. Ali Imran 158 : “ Dan sungguh jika kamu meninggal (mati) atau gugur (terbunuh), tentulah kepada Allah jua kamu dikumpulkan.”

2. Luqman 34 :”...Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui dibumi mana dia akan mati...”.

Syukurlah kalau kita matinya pas berbuat baik berarti khusnul chotimah, tetapi sebaliknya kalau kita mati pas berbuat yang menjadikan Allah SWT murka berarti kita suul chotimah. Banyak kok pelajaran dari Allah SWT yang tertuang dalam Al-Qur’an maupun dalam realita kehidupan disekeliling kita. Ada manusia yang hidupnya selalu selaras dengan tuntunan agama dan meninggalnya juga baik; ada pula manusia yang sebelum meninggal dunia kelakuannya Na’udzubilahimindzalik..melebihi binatang bahkan iblis tapi diakhir hayatnya karena rahmat dan ridho Allah diakhir perjalanannya diberikan hidayah dan mati khusnul chotimah, namun ada juga yang sebaliknya (na’udzubilahimindzalik)....dimasa kehidupannya berpegang pada jalan Allah,...eh..dimasa akhirnya malah mendapat murka Allah dan ada juga manusia yang dari awal sampai akhir hidupnya penuh dengan jalan sesat.

Untuk itu mari kita selalu eling lan waspada (berdzikir) dan selalu minta dituntun Allah SWT, dalam menjalani hidup ini dan mohon diwafatkan Allah dalam keadaan khusnul chotimah, diberikan rahmat dan ridho-Nya, tetap dalam keadaan Islam, Iman dan Ihsan disertai limpahan nur hidayah-Nya dan diangkat derajat kita disisi-Nya. Kalau perlu kita belajar “mati” sebelum mati (mati sakjroning urip).

Kenapa kita mesti minta kepada Allah? Ya karena manusia itu ndak punya daya & kekuatan apa-apa, kita ini lemah, kotor, hina, bodoh, dll. Ya kadang cuma untuk menutupi ketololannya, manusia sering mbagusi (sombong) di hadapan manusia maupun Allah. Merasa paling pandai, paling berkuasa, paling hebat, paling alim,bahkan ada yang mengaku-ngaku bahwa dia telah mampu membersihkan jiwanya yang kotor (istilah kerennya Tazkiyatun Nafs). Astaghfirullah!

Coba kita perhatikan firman Allah dalam Surat An-Nuur 21 : “...Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan keji dan munkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya”. Nah lho! Jadi Allah-lah yang membersihkan, bukan kita.

Ketahuankan manusia itu makhluk lemah, bodoh, hina, kotor, dll. Tapi ya memang begitu sifat manusia selalu sombong...aku paling pinter (berilmu), paling berkuasa, paling kaya, paling.....,paling.....Padahal kita itu nggak punya potongan untuk menyandang kesombongan. Karena kesombongan adalah pakaian Allah. Bahkan Allah sendiri dalam hadits Qudsi berkata: “ Barang siapa memakai “pakaian-Ku” (sombong) maka aku akan murka kepada-Nya. Ya...Allah-lah yang memiliki asma Sang “Mutakabbir”.

Lalu apa yang harus kita lakukan ketika akan menjelang maut? Gampang kok kita tinggal berserah diri kepada kemauan dan kehendak Allah. Jangan bawa amal dan jangan bawa ilmu. Apalah artinya ilmu, amal dan pahala dihadapan Allah. Emangnya Allah bisa kita suap? Pokoknya kita rela, pasrah total dan ikhlas kepada kehendak-Nya, sehingga Dia ridho kepada kita.

Semoga diakhir hidup, kita dapat menyambut panggilan mesra dari Allah SWT, seperti yang tertuang dalam ayat..” Hai jiwa yang tenang (nafs Muthmainah). Kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku (Al-Fajr 27-30). Amin.

Dan inti tulisan ini adalah KEMATIAN ADALAH RAHMAT TERBESAR DARI ALLAH SWT BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN DAN MEREKA MERINDUKAN KEMATIAN.


SUMBER
Share this article :

0 komentar :

Posting Komentar

SEMUA TULISAN / ARTIKEL DALAM BLOG INI HANYA SEBAGAI BAHAN PELAJARAN ( IHTIBAR ) KARENA ORANG PINTAR ADALAH ORANG YANG MERASA DIRINYA BODOH SEHINGGA TIDAK BERHENTI MEMBACA DAN BELAJAR
 

Copyright © 2014 Nurulhuda Gorontalo - All Rights Reserved

Design By @OnaldBau