Home » » CIKAL BAKAL "POLAHI" DI GORONTALO

CIKAL BAKAL "POLAHI" DI GORONTALO

Written By NurulHuda on Rabu, 25 Mei 2011 | Rabu, Mei 25, 2011


Menurut ceritera orang-orang tua dahulu bahwa Polahi
adalah pelarian zaman dahulu yang masuk hutan karena
tidak mau dijajah oleh Belanda, kemudian mereka
menjadi suku terasing di hutan. Konon mereka terdapat
di hutan gunung Boliohuto di daerah Gorontalo dan
sekitarnya.
Betulkah demikian, mari kita telusuri sejarah serta
hal-hal yang mungkin dapat membuktikannya.

Lebih dahulu kita telusuri sejarah perlawanan Rakyat
Gorontalo terhadap penjajah. Dari sekian banyak
perlawanan Rakyat Gorontalo dulu dapat kita ungkapkan
antara lain:
1. Perlawanan Raja Eyato yang menjadi Raja Gorontalo
Totilayo (di utara) tahun 1673-1679

* Perlawanan Raja Eyato pertama kali terjadi pada
tahun 1674, melawan Ternate dan kompeni Belanda, untuk
melaepaskan diri dari penjajah Belanda yang
bersama/membantu Ternate.
* Perlawanan Raja Eyato yang kedua kali terjadi
terhadap kompeni Belanda pada tahun 1677, yaitu usaha
Raja Eyato untuk menghalang-halangi utusan Belanda ke
Gorontalo dan Dumoga (Dumoga: banyak emas). Rakyat
membakar dan melarikan perahu-perahu kompeni Belanda
yang berada di pantai, tidak mengizinkan awak kapal
turun ke darat untuk mengambil air minum dan mengancam
membunuh para awak kapal kompeni Belanda. Rakyat
membuat kubu pertahanan di muara Sungai Bone. Kompeni
Belanda merubah siasat dengan cara mengajak Raja Eyato
berunding di atas kapal kompeni Belanda dan disitulah
Raja Eyato ditangkap (1679) dan diasingkan ke Ceylon
sampai wafat disana. Raja Eyato digelari Tato Celongi
atau yang di Ceylonkan.

2. Perlawanan Raja Biya (Tahun 1677-1679)
Raja Biya masih sempat memerintah Kerajaan Gorontalo
bersama Raja Eyato (Raja Eyato di utara-Totilayo dan
Raja Biya di selatan, Kerajaan Gorontalo diperintah
oleh 2 Raja di utara dan di selatan). Agar Raja Biya
tidak mengikuti sikap Raja Eyato maka tahun 1678
beliau dipanggil Gubernur Belanda di Ternate. Dalam
pertemuan dengan Gubernur Belanda yang bernama R..
Padtbrudgge diajukan 4 hal yang harus diterima oleh
Raja Biya yaitu:

1. Raja Biya harus mengakui kekuasaan kompeni Belanda
di Gorontalo
2. Rakyat bersama kompeni Belanda akan mengusir
Spanyol yang masih bercokol di Sangir Talaud.
3. Rakyat harus tunduk pada agama yang ditawarkan
kompeni Belanda.
4. Raja Biya harus mengikuti dan menganut agama bangsa
penjajah.

Sebagai siasat perjuangan, Raja Biya menerima apa yang
diajukan oleh Gubernur Belanda di Ternate, namun
sesampainya di Gorontalo, Raja Biya malah berusaha
memperkuat Kerajaan dengan suatu kubu pertahanan pada
jalan yang dilalui kompeni Belanda menuju Dumoga di
desa Padengo (di Kecamatan Kabila + 6 mil dari Pusat
Kerajaan Gorontalo.

Pada saat Gubernur kompeni Belanda ke Gorontalo tahun
1681 bersama puluhan serdadu kompeni Belanda, kompeni
Belanda bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh
Kapitan Laut (Apitalau) dan singkatnya Gubernur
menyampaikan hormat kepada Raja Limboto dan Gorontalo
dan agar kedua Raja tersebut bertemu dengan Gubernur.

Gubernur menyampaikan utusan kepada Raja Biya untuk
bertemu dan sebelum Gubernur turun ke darat, Raja Biya
sudah harus diatas kapal (istilahnya Raja Biya
menjemput Gubernur diatas kapal), namun Raja Biya
tidak pernah menjemput Gubernur diatas kapal, maka
akhirnya terjadilah pertempuran yang disebut
pertempuran Padengo. Beberapa orang serdadu Belanda
tewas dan yang lain melarikan diri, namun Kapitan
Krijs De Ronde bersama sebagian anak buahnya bertempur
satu lawan satu. Setelah kompeni menyerang beberapa
kali barulah mereka mendapat kemenangan.

Dalam pertempuran ini yang dipimpin oleh Raja Biya,
Jogugu Gorontalo dan Limboto, Ilato dan Isnaeni serta
Apitalau. Dalam pertempuran ini, di kubu pertahanan
Padengo (Gorontalo) dua belas orang gugur termasuk
pembesar Kerajaan Gorontalo dan Limboto. Tuntutan
Gubernur R. Padtbrudgge agar Raja Biya dan
kawan-kawannya menyerah, namun tidak mendapat
sambutan. Akhirnya setelah sekian lama menentang
Belanda Raja Biya bersama anak buahnya tertangkap
Belanda pada tahun 1690. Raja Biya diasingkan ke
Ceylon dan Isnaeni ke Tanjung Pengharapan (Afrika
Selatan).

Sedangkan Apitalau dan Ilato menghilang entah kemana,
menurut perkiraan saya bahwa mereka inilah beserta
anak buahnya yang melarikan diri ke hutan yang
kemudian menjadi cikal bakal Polahi. Kalau mereka ini
adalah cikal bakal Polahi, apa kira-kira
pembuktiannya, marilah kita telusuri:

"Seperti diketahui bahwa pada waktu yang belum terlalu
lama, pemerintah Gorontalo mengusahakan untuk
memukimkan kembali para Polahi di hutan untuk
dikembalikan ke dunia yang berkemajuan. Nah, kebetulan
ada seorang yang sempat bertemu dengan seseorang bekas
Polahi. Si bekas Polahi katanya memberikan kepadanya
tiga macam benda yaitu azimat untuk kekebalan, keris
dan tembaga yang berbentuk kubus dengan panjang rusuk
kubus + 5 cm. Pada salah satu sisi kubus tersebut
terlukis dengan huruf timbul: VOC dan tahun 1678 (8
agak luntur seperti 3). VOC seperti yang tertulis di
buku sejarah O C, hal ini seperti yang penulis
saksikan sendiri. Karena benda tersebut dari seorang
Polahi, maka Polahi tersebut sangat mungkin turun
temurun dari pelarian anak buah Raja Biya pada tahun
1690. jawabnya adalah hal tersebut sangat mungkin,
Wallahua’lam bis sawab".


(Sumber Cerita Hasil Diskusi dengan Pemerhati Sejarah
Gorontalo "Bapak Mukhtar Uno,Bsc")
Share this article :

0 komentar :

Posting Komentar

SEMUA TULISAN / ARTIKEL DALAM BLOG INI HANYA SEBAGAI BAHAN PELAJARAN ( IHTIBAR ) KARENA ORANG PINTAR ADALAH ORANG YANG MERASA DIRINYA BODOH SEHINGGA TIDAK BERHENTI MEMBACA DAN BELAJAR

 

Copyright © 2014 Nurulhuda Gorontalo - All Rights Reserved

Design By @OnaldBau